Demi Bertemu Siswanya di Gunungkidul, Guru SD Asal Sleman Rela Menempuh 2 Jam Perjalanan
Ungkapan "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" kerap melekat pada sosok guru.
Pasalnya, mereka rela melakukan berbagai upaya demi kecintaannya terhadap dunia mengajar, dan terutama, kecintaan pada pelajar.
Adalah Jumidah (51), seorang tenaga pengajar di SD Wonolagi, Kalurahan Ngleri, Playen, Gunungkidul.
Ia rela menempuh perjalanan jauh dari rumah, demi bertemu dengan anak-anak yang diajarnya.
Jumidah bertempat tinggal di daerah Cebongan, Mlati, Sleman yang jaraknya hampir 2 jam dari tempatnya mengajar.
Alhasil, tiap hari ia harus berjibaku di jalanan sejak pagi-pagi buta.
"Biasanya berangkat dari rumah jam 5 pagi, sampai di sekolah jam 6.45," tutur ibu satu anak ini ketika ditemui Tribunjogja.com beberapa waktu lalu.
Sesekali, saat cuaca sedang tak bersahabat, Jumidah diantar oleh suaminya yang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Namun kebanyakan ia berangkat sendiri dengan sepeda motor.
Rute perjalanannya selalu sama.
Pagi-pagi ia akan berkendara sampai ke Terminal Giwangan, lalu berangkat dengan bus sampai di Kapanewon Patuk.
Setibanya di sana, ia akan berkendara lagi dengan motor yang dititipkan di sana.
"Jadi saya ada 2 motor, satu dititipkan di Giwangan, satu lagi di Patuk," kata Jumidah yang sudah mengabdi sebagai guru selama 22 tahun terakhir.
Selalu saja ada cerita saat ia melakukan perjalanan jauh tersebut.
Pagi-pagi ia akan berkendara sampai ke Terminal Giwangan, lalu berangkat dengan bus sampai di Kapanewon Patuk.
Setibanya di sana, ia akan berkendara lagi dengan motor yang dititipkan di sana.
"Jadi saya ada 2 motor, satu dititipkan di Giwangan, satu lagi di Patuk," kata Jumidah yang sudah mengabdi sebagai guru selama 22 tahun terakhir.
Selalu saja ada cerita saat ia melakukan perjalanan jauh tersebut.
Mulai dari jalanan yang licin hingga harus melewati jalur yang ekstrem saat hujan.
Apalagi lokasi SD Wonolagi terbilang jauh dari keramaian.
Jumidah sebelumnya juga pernah mengabdi di Ponjong selama 12 tahun, di mana menurutnya kondisi jalannya lebih "ngeri".
Untungnya, suami Jumidah selalu bersedia mengantarkan saat situasi tersebut.
"Ya anggap saja lagi jalan-jalan bareng suami, seperti pengantin baru lagi," kelakarnya sembari tertawa.
Mengabdi selama puluhan tahun sebagai guru membuat Jumidah tak banyak memikirkan berbagai kendala yang dihadapi.
Baginya yang terpenting bisa mengajar dan bertemu dengan anak-anak.
Hal itu pula yang ia rasakan saat mengajar di SD Wonolagi.
Meski pelajarnya sedikit, namun nenek dari dua cucu ini tetap menikmati profesinya tersebut.
Begitu pula saat pandemi COVID-19 seperti ini.
Meski tampaknya lama, tentunya waktu itu tak akan terasa.
Saat sudah purna nanti, Jumidah menyatakan akan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, bersama keluarganya.
"Saya akan banyak membantu suami di rumah, sembari menikmati hari tua," ungkapnya.
Sumber berita :
Comments
Post a Comment